\A.
Pengertian Metode dan Pendekatan
Kata
metode berasal dari bahasa Yunani. Secara etimologi, kata metode berasal dari
dari dua suku perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta
berarti “melalui dan hodos berrti “jalan” atau “cara”. Dalam Bahasa
Arab metode dikenal dengan istilah thariqah yang berarti
langkah-langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu
pekerjaan. Sedangkan dalam bahasa Inggris metode disebut method yang berarti
cara dalam bahasa Indonesia.
Sedangkan
menurut terminologi (istilah) para ahli memberikan definisi yang beragam
tentang metode, terlebih jika metode itu sudah disandingkan dengan kata
pendidikan atau pengajaran diantaranya :
1.
Winarno
Surakhmad mendefinisikan bahwa metode adalah cara yang di dalam fungsinya
merupakan alat untuk mencapai tujuan.
2.
Abu Ahmadi
mendefinisikan bahwa metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar
yang dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur.
3.
Ramayulis
mendefinisikan bahwa metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam
mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya proses
pembelajaran. Dengan demikian metode mengajar merupaka alat untuk menciptakan
proses pembelajaran.
4.
Omar
Mohammad mendefinisikan bahwa metode mengajar bermakna segala kegiatan yang
terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata
pelajaran yang diajarkannya, cirri-ciri perkembangan muridnya, dan suasana alam
sekitarnya dan tujuan menolong murid-muridnya untuk mencapai proses belajar
yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka.
Berdasarkan definisi yang
dikemukakan para ahli mengenai pengertian metode di atas, beberapa hal yang
harus ada dalam metode adalah :
1.
Adanya
tujuan yang hendak dicapai
2.
Adanya
aktivitas untuk mencapai tujuan
3.
Aktivitas
itu terjadi saat proses pembelaran berlangsung
4.
Adanya
perubahan tingkah laku setelah aktivitas itu dilakukan.
Ada istilah lain
yang dalam pendidikan yang mengandung makna berdekatan dengan metode, yaitu
pendekatan dan teknik/strategi. Pendekatan merupakan pandangan falsafi terhadap
subject matter yang harus diajarkan dapat juga diartikan sebagai pedoman
mengajar yang bersifat realistis/konseptual. Sedangkan teknik/strategi adalah
siasat atau cara penyajian yang dikuasai pendidik dalam mengajar atau
menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik di dalam kelas, agar bahan
pelajaran dapat dipahami dan digunakan dengan baik.
B.
Dasar Metode Pendidikan Islam
Dalam penerapannya, metode
pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau social peserta didik
dan pendidik itu sendiri. Untuk itu dalam menggunakan metode seorang pendidik
harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab
metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan,
sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada
dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dasar metode pendidikan Islam itu
diantaranya adalah dasar agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.
1.
Dasar Agamis, maksudnya bahwa
metode yang digunakan dalam pendidikan Islam haruslah berdasarkan pada Agama.
Sementara Agama Islam merujuk pada Al Qur’an dan Hadits. Untuk itu, dalam
pelaksanannya berbagai metode yang digunakan oleh pendidik hendaknya
disesuaikan dengan kebutuhan yang muncul secara efektif dan efesien yang
dilandasi nilai-nilai Al Qur’an dan Hadits.
2.
Dasar Biologis, Perkembangan
biologis manusia mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Semakin
dinamis perkembangan biologis seseorang, maka dengan sendirinya makin meningkat
pula daya intelektualnya. Untuk itu dalam menggunakan metode pendidikan Islam
seorang guru harus memperhatikan perkembangan biologis peserta didik.
3.
Dasar Psikologis. Perkembangan dan
kondisi psikologis peserta didik akan memberikan pengaruh yang sangat besar
terhadap penerimaan nilai pendidikan dan pengetahuan yang dilaksanakan, dalam
kondisi yang labil pemberian ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai akan
berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh Karenanya Metode pendidikan
Islam baru dapat diterapkan secara efektif bila didasarkan pada perkembangan
dan kondisi psikologis peserta didiknya. Untuk itu seorang pendidik dituntut
untuk mengembangkan potensi psikologis yang tumbuh pada peserta didik. Sebab
dalam konsep Islam akal termasuk dalam tataran rohani.
4.
Dasar sosiologis. Saat
pembelanjaran berlangsung ada interaksi antara pesrta didik dengan peserta
didik dan ada interaksi antara pendidik dengan peserta didik, atas dasar hal
ini maka pengguna metode dalam pendidikan Islam harus memperhatikan landasan
atau dasar ini. Jangan sampai terjadi ada metode yang digunakan tapi tidak
sesuai dengan kondisi sosiologis peserta didik, jika hal ini terjadi bukan
mustahil tujuan pendidikan akan sulit untuk dicapai.
Keempat dasar di atas
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus diperhatikan oleh
para pengguna metode pendidikan Islam agar dalam mencapai tujuan tidak
mengunakan metode yang tidak tepat dan tidak cocok kondisi agamis, kondisi
biologis, kondisi psikologis, dan kondisi sosiologis peserta didik.
C.
Macam-macam Metode dan Pendekatan dalam Pendidikan Islam
1. Macam-macam metode
Sebagai ummat yang telah
dianugerahi Allah Kitab AlQuran yang lengkap dengan petunjuk yang meliputi
seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal sebaiknya menggunakan metode
mengajar dalam pendidikan Islam yang prinsip dasarnya dari Al Qur’an dan
Hadits. Diantara metode- metode tersebut adalah :
a. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah cara
penyampaian informasi melalui penuturan secara lisan
oleh pendidik kepada peserta didik. Prinsip dasar metode ini
terdapat di dalam Al Qur’an :
فَلَمَّآ أَنجَاهُمْ
إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ يَاأَيُّهَا النَّاسُ
إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنفُسِكُم مَّتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ
إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Maka tatkala Allah
menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa
(alasan) yang benar. Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan
menimpa dirimu sendiri (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup
duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa
yang telah kamu kerjakan (Q.S. Yunus : 23).
b. Metode Tanya jawab
Metode Tanya jawab adalah suatu
cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid
tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka
baca.
Prinsip dasar metode ini
terdapat dalam hadits Tanya jawab antara Jibril dan Nabi Muhammad tentang iman,
islam, dan ihsan.
Selain itu ada juga hadits
yang lainnya seperti hadits berikut ini :
حَدَّثَنَا
قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح وَقَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا
بَكْرٌ يَعْنِي ابْنَ مُضَرَ كِلَاهُمَا عَنْ ابْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ
إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَفِي حَدِيثِ
بَكْرٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ
يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالُوا لَا يَبْقَى
مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالَ فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو
اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا.
Artinya: Hadis Qutaibah ibn
Sa’id, hadis Lâis kata Qutaibah hadis Bakr yaitu ibn Mudhar dari ibn Hâd dari
Muhammad ibn Ibrahim dari Abi Salmah ibn Abdurrahmân dari Abu Hurairah r.a.
Rasulullah saw. bersabda; Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di
depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sana
lima kali
sehari. Bagaimana pendapat kalian? Apakah masih akan tersisa kotorannya? Mereka
menjawab, tidak akan tersisa kotorannya sedikitpun. Beliau bersabda; Begitulah
perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa. (Muslim, I:
462-463)
c. Metode diskusi
Metode diskusi adalah suatu
cara penyajian/ penyampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberikan
kesempatan kepada peserta didik/ membicarakan dan menganalisis secara ilmiah
guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai
alternativ pemecahan atas sesuatu masalah. Abdurrahman Anahlawi menyebut metode
ini dengan sebutan hiwar (dialog).
Prinsip dasar metode ini
terdapat dalam Al Qur’an Surat Assafat : 20-23 yang berbunyi :
وَقَالُوا
يَاوَيْلَنَا هَذَا يَوْمُ الدِّينِ هَذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِي كُنتُم بِهِ
تُكَذِّبُونَ احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَاكَانُوا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ
فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ
Dan mereka berkata:”Aduhai
celakalah kita!” Inilah hari pembalasan.Inilah hari keputusan yang kamu selalu
mendustakannya(kepada Malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang
zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka
sembah,Selain Allah; Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. (Q.S.
Assafat : 20-23)
Selain itu terdapat juga
dalam hadits yang berbunyi :
حَدَّثَنَا
قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ
وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا
الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ
فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ
وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ
هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ
وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا
عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ.
Artinya: Hadis Qutaibah ibn
Sâ’id dan Ali ibn Hujr, katanya hadis
Ismail dan dia ibn Ja’far dari ‘Alâ’
dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. bahwasnya Rasulullah saw. bersabda: Tahukah
kalian siapa orang yang muflis (bangkrut)?, jawab
mereka; orang yang tidak memiliki dirham dan harta.Rasul bersabda; Sesungguhnya
orang yang muflis dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat
dengan (pahala) salat, puasa dan zakat,. Dia datang tapi telah mencaci
ini, menuduh ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah (membunuh)
ini dan memukul orang ini. Maka orang itu diberi pahala miliknya. Jika
kebaikannya telah habis sebelum ia bisa menebus kesalahannya, maka
dosa-dosa mereka diambil dan dicampakkan kepadanya, kemudian ia
dicampakkan ke neraka.(Muslim, t.t, IV: 1997).
d. Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas
adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu
kepada murid-murid, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh gur dan murid harus
mempertanggung jawabkannya.
Prinsip dasar metode ini
terdapat dalam Al Qur’an yang berbunyi :
يَاأَيُّهَا
الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ وَلاَتَمْنُن تَسْتَكْثِرُ وَلِرَبِّكَ
فَاصْبِرْ
Artinya :
1.
Hai orang
yang berkemul (berselimut),
2.
Bangunlah,
lalu berilah peringatan!
3.
Dan
Tuhanmu agungkanlah!
4.
Dan
pakaianmu bersihkanlah,
5.
Dan
perbuatan dosa tinggalkanlah,
6.
Dan
janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7.
Dan untuk
(memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
e. Metode Demontrasi
Metode demontrasi adalah
suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukan tentang proses sesuatu, atau
pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya.
Prinsip dasarnya terdapat
dalam hadits yang berbunyi
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ
عَنْ أَبِي قِلَابَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ أَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا
عِنْدَهُ عِشْرِينَ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيمًا رَفِيقًا فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدْ اشْتَهَيْنَا
أَهْلَنَا أَوْ قَدْ اشْتَقْنَا سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا
فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ
وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لا أَحْفَظُهَا
وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.
Artinya: Hadis dari Muhammad
ibn Muşanna, katanya hadis dari Abdul Wahhâb katanya Ayyũb dari Abi Qilâbah
katanya hadis dari Mâlik. Kami mendatangi Rasulullah saw. dan kami pemuda yang
sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama (dua puluh malam) 20 malam.
Rasulullah saw adalah seorang yang penyayang dan memiliki sifat lembut.
Ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu pada keluarga, beliau
menanyakantentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami memberitahukannya.
Beliau bersabda; kembalilah bersama keluargamu dan tinggallah bersama mereka,
ajarilah mereka dan suruhlah mereka. Beliau menyebutkan hal-hal yang saya hapal
dan yang saya tidak hapal. Dan salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat.
(al-Bukhari, I: 226)
f. Metode eksperimen
Suatu cara mengajar dengan menyuruh
murid melakukan suatu percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan
itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh
murid sambil memberikan arahan.
Prinsip dasar metode ini ada
dalam hadits :
حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ
حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ عَنْ ذَرٍّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى عَنْ أَبِيهِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ
الْخَطَّابِ فَقَالَ إِنِّي أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبْ الْمَاءَ فَقَالَ عَمَّارُ
بْنُ يَاسِرٍ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَمَا تَذْكُرُ أَنَّا كُنَّا فِي سَفَرٍ
أَنَا وَأَنْتَ فَأَمَّا أَنْتَ فَلَمْ تُصَلِّ وَأَمَّا أَنَا فَتَمَعَّكْتُ
فَصَلَّيْتُ فَذَكَرْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ هَكَذَا
فَضَرَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْهِ الْأَرْضَ
وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ ….
Artinya: Hadis Adam, katanya
hadis Syu’bah ibn Abdurrahmân ibn Abzâ dari ayahnya, katanya seorang laki-laki
datang kepada Umar ibn Khattâb, maka katanya saya sedang janabat dan tidak
menemukan air, kata Ammar ibn Yasir kepada Umar ibn Khattâb, tidakkah anda
ingat ketika saya dan anda dalam sebuah perjalanan, ketika itu anda belum
salat, sedangkan saya berguling-guling di tanah, kemudian saya salat. Saya
menceritakannya kepada Rasul saw. kemudian Rasulullah saw. bersabda:
”Sebenarnya anda cukup begini”. Rasul memukulkan kedua telapak tangannya ke
tanah dan meniupnya kemudian mengusapkan keduanya pada wajah.(al-Bukhari, I:
129)
Hadis di atas tergolong
syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah
hafiz, şiqah şubut. Menurut al-Asqalani, hadis ini mengajarkan sahabat tentang
tata cara tayammum dengan perbuatan. (Al-Asqalani, I: 444) Sahabat Rasulullah
saw. melakukan upaya pensucian diri dengan berguling di tanah ketika mereka
tidak menemukan air untuk mandi janabat. Pada akhirnya Rasulullah saw.
memperbaiki ekperimen mereka dengan mencontohkan tata cara bersuci menggunakan
debu.
g. Metode Amsal/perumpamaan
Yaitu cara mengajar dimana
guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan.
Prinsip metode ini terdapat
dalam Al Qur’an
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ
الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّآ أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ
بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لاَّ يُبْصِرُونَ
Perumpamaan mereka adalah
seperti orang yang menyalakan api Maka setelah api itu menerangi
sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan
mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (Q.S. Albaqarah : 17)
Selain itu terdapat pula
dalam hadits yang berbunyi :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ الْمُثَنَّى وَاللَّفْظُ لَهُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ يَعْنِي
الثَّقَفِيَّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ
الشَّاةِ الْعَائِرَةِ بَيْنَ الْغَنَمَيْنِ تَعِيرُ إِلَى هَذِهِ مَرَّةً وَإِلَى
هَذِهِ مَرَّةً .
Artinya; Hadis dari Muhammad
ibn Mutsanna dan lafaz darinya, hadis dari Abdul Wahhâb yakni as- Śaqafi, hadis
Abdullah dari Nâfi’ dari ibn Umar, Nabi saw. bersabda: Perumpamaan orang
munafik dalam keraguan mereka adalah seperti kambing yang kebingungan di tengah
kambing-kambing yang lain. Ia bolak balik ke sana ke sini. (Muslim, IV: 2146)
Hadis di atas tergolong
syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah
şubut, şiqah hâfiz, sedangkan ibn Umar adalah sahabat Rasulullah saw. Menurut
ath-Thîby (1417H, XI: 2634), orang-orang munafik, karena mengikut hawa nafsu
untuk memenuhi syahwatnya, diumpamakan seperti kambing jantan yang berada di
antara dua kambing betina. Tidak tetap pada satu betina, tetapi berbolak balik
pada ke duanya. Hal tersebut diumpamakan seperti orang munafik yang tidak konsisten
dengan satukomitmen.
Perumpamaan dilakukan oleh Rasul saw. sebagai satu metode pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada sahabat, sehingga materi pelajaran dapat dicerna dengan baik. Matode ini dilakukan dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang lebih konkrit. Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah saw. sebagai satu metode pembelajaran selalu syarat dengan makna, sehinga benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang konkrit atau menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna menjadi sesuatu yang sangat jelas.
Perumpamaan dilakukan oleh Rasul saw. sebagai satu metode pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada sahabat, sehingga materi pelajaran dapat dicerna dengan baik. Matode ini dilakukan dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang lebih konkrit. Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah saw. sebagai satu metode pembelajaran selalu syarat dengan makna, sehinga benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang konkrit atau menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna menjadi sesuatu yang sangat jelas.
h. Metode Targhib dan Tarhib
Yaitu cara mengajar dimana
guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap
kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan
dan menjauhi keburukan.
Prinsip dasarnya terdapat
dalam hadits berikut ini :
حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ
أَبِي عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ
بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا
الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ.
Artinya: Hadis Abdul Aziz
ibn Abdillah katanya menyampaikan padaku Sulaiman dari Umar ibn Abi Umar dari
Sâ’id ibn Abi Sa’id al-Makbârî dari Abu Hurairah, ia berkata: Ya Rasulullah,
siapakah yang paling bahagia mendapat syafa’atmu pada hari kiamat?, Rasulullah
saw bersabda: Saya sudah menyangka, wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang
bertanya tentang hadis ini seorangpun yang mendahului mu, karena saya melihat
semangatmu untuk hadis. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku ada hari
Kiamat adalah orang yang mengucapkan ”Lâilaha illa Allah” dengan ikhlas dari
hatinya atau dari dirinya.(al-Bukhari, t.t, I: 49)
Selain hadits juga hadits
berikut ini :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ
بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَنْ
بَكْرِ بْنِ سَوَادَةَ الْجُذَامِيِّ عَنْ صَالِحِ بْنِ خَيْوَانَ عَنْ أَبِي
سَهْلَةَ السَّائِبِ بْنِ خَلَّادٍ قَالَ أَحْمَدُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا أَمَّ قَوْمًا فَبَصَقَ فِي
الْقِبْلَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ فَرَغَ لَا
يُصَلِّي لَكُمْ….
Artinya: Hadis Ahmad ibn
Shalih, hadis Abdullah ibn Wahhab, Umar memberitakan padaku dari Bakr ibn
Suadah al-Juzâmi dari Shâlih ibn Khaiwân dari Abi Sahlah as-Sâ’ib ibn Khallâd,
kata Ahmad dari kalangan sahabat Nabi saw. bahwa ada seorang yang menjadi imam
salat bagi sekelompok orang, kemudian dia meludah ke arah kiblat dan Rasulullah
saw. melihat, setelah selesai salat Rasulullah saw. bersabda ”jangan lagi dia
menjadi imam salat bagi kalian”… (Sijistani, t.t, I: 183).
Hadis di atas tergolong
syarîf marfū’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah hâfiz, şiqah
dan şiqah azaly. Memberikan hukuman (marah) karena orang tersebut tidak layak
menjadi imam. Seakan-akan larangan tersebut disampaikan beliau tampa kehadiran
imam yang meludah ke arah kiblat ketika salat. Dengan demikian Rasulullah saw.
memberi hukuman mental kepada seseorang yang berbuat tidak santun dalam
beribadah dan dalam lingkungan sosial.
Sanksi dalam pendidikan
mempunyai arti penting, pendidikan yang terlalu lunak akan membentuk pelajar
kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati. Sanksi tersebut dapat
dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, dengan teguran, kemudian diasingkan
dan terakhir dipukul dalam arti tidak untuk menyakiti tetapi untuk mendidik.
Kemudian dalam menerapkan sanksi fisik hendaknya dihindari kalau tidak
memungkinkan, hindari memukul wajah, memukul sekedarnya saja dengan tujuan
mendidik, bukan balas dendam.
i. Metode pengulangan
(tikror)
Yaitu cara mengajar dimana
guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut
dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama materi yang disampaikan.
Prinsip dasarnya terdapat
dalam hadits berikut :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ
بْنُ مُسَرْهَدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ حَدَّثَنِي
أَبِي عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ
الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ.
Artinya: Hadis Musaddad ibn
Musarhad hadis Yahya dari Bahzâ ibn Hâkim, katanya hadis dari ayahnya katanya
ia mendengar Rasulullah saw bersabda: Celakalah bagi orang yang berbicara dan
berdusta agar orang-orang tertawa. Kecelakaan baginya, kecelakaan baginya.
(As-Sijistani, t.t, II: 716).
Hadis di atas tergolong
syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah dan şiqah
hafiz, şiqah sadũq. Rasulullah saw. mengulang tiga kali perkataan ”celakalah”,
ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus dilaksanakan dengan baik dan benar,
sehingga materi pelajaran dapat dipahami dan tidak tergolong pada orang yang
merugi.
Satu proses yang penting dalam pembelajaran adalah pengulangan/latihan atau praktek yang diulang-ulang. Baik latihan mental dimana seseorang membayangkan dirinya melakukan perbuatan tertentu maupun latihan motorik yaitu melakukan perbuatan secara nyata merupakan alat-alat bantu ingatan yang penting. Latihan mental, mengaktifkan orang yang belajar untuk membayangkan kejadian-kejadian yang sudah tidak ada untuk berikutnya bayangan-bayangan ini membimbing latihan motorik. Proses pengulangan juga dipengaruhi oleh taraf perkembangan seseorang. Kemampuan melukiskan tingkah laku dan kecakapan membuat model menjadi kode verbal atau kode visual mempermudah pengulangan. Metode pengulangan dilakukan Rasulullah saw. ketika menjelaskan sesuatu yang penting untuk diingat para sahabat.
Satu proses yang penting dalam pembelajaran adalah pengulangan/latihan atau praktek yang diulang-ulang. Baik latihan mental dimana seseorang membayangkan dirinya melakukan perbuatan tertentu maupun latihan motorik yaitu melakukan perbuatan secara nyata merupakan alat-alat bantu ingatan yang penting. Latihan mental, mengaktifkan orang yang belajar untuk membayangkan kejadian-kejadian yang sudah tidak ada untuk berikutnya bayangan-bayangan ini membimbing latihan motorik. Proses pengulangan juga dipengaruhi oleh taraf perkembangan seseorang. Kemampuan melukiskan tingkah laku dan kecakapan membuat model menjadi kode verbal atau kode visual mempermudah pengulangan. Metode pengulangan dilakukan Rasulullah saw. ketika menjelaskan sesuatu yang penting untuk diingat para sahabat.
D. Macam-macam pendekatan dalam pendidikan Islam
Menurut Ramayulis pendekatan
pandangan falsafi terhadap subject matter syang harus diajarkan dan selanjutnya
melahirkan metode mengajar. Menurutnya setidaknya ada enam pendekatan yang
dapat digunakan pendidikan Islam dalam pelaksanaan proses pembelajaran, yaitu :
1.
Pendekatan pengalaman. Yaitu
pemberian pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman
nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini peserta didik diberi kesempatan
untuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individual maupun kelompok.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik.
2.
Pendekatan pembiasaan. Pembiasaan
adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis tanpa direncanakan
terlebih dahulu dan berlaku begitu saja yang kadang kala tanpa dipikirkan.
Pendekatan pembiasaan dalam pendidikan berarti memberikan kesempatan kepada
peserta didik terbiasa mengamalkan ajarannya.
3.
Pendekatan emosional. Pendekatan
emosional adalah usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam
meyakini ajaran Islam serta dapat merasakan mana yang baik dan mana yang buruk.
4.
Pendekatan Rasional, yaitu suatu
pendekatan mempergunakan rasio dalam memahami dan menerima kebesaran dan
kekuasaan Allah. Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana yang
baik dan mana yang buruk, bahkan dengan akal yang dimilikinya juga manusia juga
dapat membenarkan dan membuktikan adanya Allah.
5.
Pendekatan fungsional, yaitu suatu
pendekatan dalam rangka usaha menyampaikan materi agama dengan menekankan
kepada segi kemanfaatan pada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, sesuai
dengan tingkat perkembangannya. Ilmu Agama yang dipelajari anak di sekolah
bukanlah hanya sekedar melatih otak tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan
anak, baik dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan social.
6.
Pendekatan keteladanan. Pendekatan
keteladanan adalah memperlihatkan keteladanan baik yang berlangsung melalui
penciptaan kondisi pergaulan yang akrab antara personal sekolah, perilaku
pendidik dan tenaga kependidikan lainnya yang mencerminkan akhlak terpuji,
maupun yang tidak langsungmelalui suguhan ilustrasi berupa kisah-kisah
ketauladanan.
BAB III
PENUTUP
Dari pembahasan di atas
dapat disimpulkan bahwa metode dan pendekatan dalam pendidikan Islam mempunyai
peranan yang amat penting dalam pencapaian tujuan pendidikan. Sebaik apapun
materi yang akan kita sampaikan tanpa disertai metode yang tepat dalam
pencapaiannya dikhawatirkan esensi dari materi tersebut tidak sampai dan tidak
difahami oleh peserta ddik
Demikianlah pembahasan tentang
metode dan pendekatan dalam pendidikan Islam yang sangat sederhana ini. Untuk
menyempurnakan makalah ini kami berharap kritik dan saran yang membangun dari
semua peserta diskusi sore hari ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Joko
Triprasetyo, 2005, Strategi Belajar Mengajar, Bandung : Pustaka
setia
Anwar, Qamari, 2003,
Pendidikan Sebagai Karakter Budaya Bangsa, Jakarta :
UHAMKA Press.
Al Syaibani, Omar Mohammad,
1979, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang
Echol, Jhon M dan Shadily,
Hasan, 1995, Kamus Inggris Indonesia,
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
A. Pendahuluan
Perencanaan adalah
sesuatu yang penting sebelum melakukan sesuatu yang lain. Perencanaan dianggap
penting karena akan menjadi penentu dan sekaligus memberi arah terhadap tujuan
yang ingin dicapai. Dengan demikian suatu kerja akan berantakan dan tidak
terarah jika tidak ada perencaan yang matang, perencaan yang matang dan disusun
dengan baik akan memberi pengaruh terhadap ketercapaian tujuan. Penjelasan ini
makin menguatkan alasan akan posisi stragetis perencanaan dalam sebuah lembaga
dalam perencanaan merupakan proses yang dikerjakan oleh seseorang manajer dalam
usahanya untuk mengarahkan segala kegiatan untuk meraih tujuan.
Berdasarkan penjelasan
tersebut dapat dipahami perencanaan menentukan berhasil tidaknya suatu program,
program yang tidak melalui perencanaan yang baik cenderung gagal. Dalam arti
kegiatan sekecil dan sebesar apapun jika tanpa ada perencanaan kemungkinan
besar berpeluang untuk gagal.
Hal tersebut juga berlaku
dalam sebuah lembaga, seperti lembaga pendidikan, lebih khusus lembaga
pendidikan Islam. Lembaga pendidikan yang tidak mempunyai perencanaan yang baik
akan mengalami kegagalan. Hal ini tentunya makin memperjelas posisi perencanaan
dalam sebuah lembaga.
Untuk memperlancar
jalannya sebuah lembaga diperlukan perencanaan, dengan perencanaan akan
mengarahkan lembaga tersebut menuju tujuan yang tepat dan benar menurut tujuan lembaga
itu sendiri. Artinya perencanaan memberi arah bagi ketercapaian tujuan sebuah
system, karena pada dasarnya system akan berjalan dengan baik jika ada
perencanaan yang matang. Perencanaan dianggap matang dan baik jika memenuhi
persyaratan dan unsur-unsur dalam perencanaan itu sendiri.
B. Pengertian perencanaan
Pengertian perencanaan
mempunyai beberapa definisi rumusan yang berbeda satu dengan lainnya. Cuningham
menyatakan bahwa perencanaan adalah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan,
fakta, imajinasi, dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan
memvisualisasi dan memformulasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang
diperlukan, dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima dan digunakan
dalam penyelesaian. Perencanaan dalam pengertian ini
menitikberatkan kepada usaha untuk menyeleksi dan menghubungkan sesuatu dengan
kepentingan masa yang akan datang serta usaha untuk mencapainya.
Definisi lain menyatakan
bahwa perencanaan adalah hubungan antara apa yang ada sekarang dengan bagaimana
seharusnya yang berkaitan dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas,
program,dan alokasi sumber.
Perencanaan mempunyai
makna yang komplek, perencanaan didefinisikan dalam berbagai bentuk tergantung
dari sudut pandang, latar belakang yang mempengaruhinya dalam mendefinisikan
pengertian perencanaan. Di antara definisi tersebut adalah sebagai berikut:
Menurut prajudi Atmusudirjo perencanaan adalah perhitungan dan penentuan
tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam mencapai tujuan tertentu, oleh
siapa, dan bagaimana. Bintoro Tjokroamidjojo menyatakan bahwa perencanaan dalam
arti luas adalah proses memprsiapkan kegiatan-kegiatan secara sistematis yang
akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Muhammad Fakri
perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan berbagai keputusan yang
akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Lebih lanjut Muhammad Fakri menyatakan bahwa perencanaan dapat juga
dikatakan sebagai suatu proses pembuatan serangkaian kebijakan untuk
mengendalikan masa depan sesuai yang ditentukan. Dari kutipan tersebut dapat dianalisis
bahwa dalam menyusun perencanaan perlu memperhatikan hal-hal yang berhubungan
dengan masa depan, adanya kegiatan, proses yang sistematis, hasil dan tujuan
tertentu.
Kaufman mengatakan bahwa
perencanaan adalah suatu proyeksi tentang apa yang dibutuhkan dalam rangka
mencapai tujuan secara sah dan berdaya guna. Dari pendapat Kaufman tersebut dapat
dipahami bahwa perencanaan merupakan sesuatu yang menjadi keperluan dalam
sebuah system untuk mendukung tercapainya tujuan. Tidak itu saja selain
mendukung tercapainya tujuan suatu system maupun lembaga perencanaan yang
dipersiapkan hendaknya bermanfaat secara aplikasi, dan lebih penting adalah
dikerjakan dan disusun berdasarkan kepatutan serta tidak melanggar norma yang
berlaku. Menurut Kaufman dalam perencanaan mengandung elemen-elemen sebagai
berikut, pertama mengindentifikasi dan mendokumentasikan kebutuhan. Kedua,
menentukan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat prioritas. Ketiga, memperinci
spesifikasi hasil yang dicapai dari tiap kebutuhan yang dipioritaskan. Keempat,
mengidentifikasi persyaratan untuk mencapai tiap-tiap alternatif. Kelima,
mengidentifikasi strategi alternative yang memungkinkan, termasuk di dalamnya
peralatan untuk melengkapi tiap persyaratan untuk mencapai kebutuhan, untung
rugi berbagai latar dan strategi yang digunakan.
Uraian tersebut,
memperjelas bahwa perencanaan berkaitan dengan pemilihan dan penentuan
kebijakan tertentu. Harjanto memberi komentar terhadap pendapat Kaufman bahwa
perencanaan merupakan proses untuk menentukan kemana harus melangkah dan
mengidentifikasi berbagai persyaratan yang dibutuhkan dengan cara efektif dan
efesien. Harjanto menyatakan bahwa perencanaan mengandung enam pokok pikiran
yaitu, pertama perencaaan melibatkan proses penentapan keadaan masa depan yang
diinginkan. Kedua, keadaan masa depan yang diinginkan dibandingkan dengan
kenyataan sekarang, sehingga dapat dilihat kesenjangannya. Ketiga, untuk
menutup kesenjangan perlu dilakukan usaha-usaha. Keempat, uasaha untuk menutup
kesenjangan tersebut dapat dilakukan derngan berbagai usaha dan alternative.
Kelima, perlu pemilihan alternative yang baik, dalam hal ini mencakup efektifitas
dan efesiensi. Keenam, alternative yang sudah dipilih hendaknya diperinci
sehingga dapat menajdi petunjuk dan pedoman dalam pengambilan kebijakan.
Beeby C.E sebagaimanan
dikutip oleh Asnawir menyatakan bahwa perencanaan pendidikan adalah penerapan
ramalan dalam menentukan kebijaksanaan, prioritas, ekonomi dan politik, potensi
system untuk berkembang, kepentingan Negara dan pelayanan masyarakat yang
mencakup dalam system tersebut.
Dari kutipan tersebut
dapat dipahami bahwa perencanaan merupakan aplikasi dari pemikiran yang
tersusun untuk mencapai keinginan bersama. Dengan demikian perencanaan yang di
susun merupakan konsep yang aplikatif dan oprasional. Dapat juga merupakan
aktifitas untuk mengambil keputusan. Hal senada juga dikatakan oleh George R.
Terry bahwa perencanaan merupakan aktifitas pengambilan keputusan tentang apa
yang harus dilakukan, di mana, kapan dilakukan, bagaimana melakukan dan siapa
yang akan melakukan, sehingga tercapainya tujuan yang dinginkan.
Dengan demikian
perencanaan adalah usaha untuk menggali siapa yang bertangungjawab terhadap
berbagai aktifitas tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Aktifitas
tersebutkan tergambar dalam sebuah perencanaan yang matang dan komprehensif.
Hal ini dapat dipahami dari pendapat George R. Terry tersebut. Di sisi lain,
perencanaan dapat dikatrakan sebagai usaha mencari penangggungjawab terhadap
berbagai rumusan kebijakan untuk dilaksanakan bersama sesuai dengan bidang
masing-masing.
Asnawir menyatakan
perencanaan adalah kegiatan yang harus dilakukan padatingkat permulaan, dan
merupakan aktifitas memikirkan dan memilih rangkaian tindakan yang tertuju pada
tercapainya maksud dan tujuan yang ingin dicapai.
Islam mengajarkan kepada
umatnya untuk merencanakan segala kegiatannya.” Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”(Qs.Al-Hasyr:18).
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa perlunya perlunya perencanaan untuk
masa depan, apakah untuk diri sendiri, pemimpin keluarga, lembaga, masyarakat
maupun sebagai pemimpin Negara.
Allah sebagai pencipta,
Allah sebagai Perencana semua makhluk ciptaannya, Allah adalah Maha
Merencanakan, Al-Bari, sifat tersebut menjadi
inspirasi bagi umat islam terutama para manajer. Karena pada dasarnya manajer
yang harus mempunyai banyak konsep tetang manajemen termasuk di dalamnnya
perencanaan pemimpin yanb adalah yang mempunyai visi dan misi, dan membangun
kedua hal tersebut agar berjalan sesuai dengan tujuan bersama. Visi dan misi
merupakan hasil dari perencanaan yang baik dan matang. Menurut Soejitno Irmin
dalam buku Kepmimpinan Melalui Asmaul Husna
menyatakan bahwa perencanaan merupakan proses kegiatan yang tertata rapi yang
bertahap dan bekelanjutan.
Dari kutipan tersebut
dapat dicermati bahwa perencanaan adalah proses yang berkelanjutan, bertahap
dan tertata rapi. Artinya perencanaan tidak bersifat mutlak, kaku tetapi ada
peluang untuk perbaikan dan sisipan kebijakan baru. Dengan demikian perencanaan
adalah proses yang berkelanjutan dalam rangka menyempurnakan aktifitas untuk
mewujudkan tujuan bersama.
Menurut Coom dalam
definisi perencanaan pendidikan dibahas paling tidak tempat hal sebagai
berikut: pertama tujuan, apakah yang akan dicapai dengan perencanaan itu?
Kedua, status posisi system pendidikan yang ada, bagaimanakah keadaan yang ada
sekarang? Ketiga, kemungkinan pilihan alternative kebijakan dan prioritas untuk
mencapai tujuan. Keempat, strategi.
Dari beberapa definisi
tersebut, dapat dipahami bahwa ada beberapa unsure penting yang terkandung
dalam perencanaan pendidikan, yaitu Pertama penggunaan analisis yang bersifat
rasional dan sistematik dalam perencanaan pendidikan, termasuk di dalamnya
metodologi dalam perencanaan. Kedua, proses pembangunan dan pengembangan
pendidikan. Artinya adalah perencanaan pendidikan dilakukan dalam rangka
perbaikan pendidikan atau reformasi pendidikan. Ketiga prinsip efektifitas dan
efesien, artinya dalam perencanaan pendidikan perlu dipikirkan aspek ekonomis.
Keempat kebutuhan dan tujuan peserta didik dan masyarakat, regional, nasional
dan internasional, artinya perencanaan lembaga pendidikan hendaknya mencakup aspek
internal dan eksternal dari organisasi sistem lembaga pendidikan. Dengan demikian perencanaan pendidikan
sekedar untuk internal lembaga pendidikan, anak didik, lebih dari itu
pertimbangan lingkungan masyarakat sebagai pengguna sekaligus penerima hsil
perlu dipertimbangkan, termasuki juga kebutuhan regional, nasional dan
internasional, ini artinya adalah menyusun perencanaan hendaknya bersifat universal
untuk jangka pendek dan jangka panjang yang kesemuanya bermuara kepada
kebutuhan dan tujuan universal.
C.
Unsur-Unsur dan Syarat-Syarat Menyusun Perencanaan.
Perencanaan membutuhkan
pemkiran yang mendalam dengan pemikiran yang mendalam akan membantu proses
perencanaan yang akan buat. Pemikiran tersebut dilandasi dengan keikhlasan dan
keinginan untuk merencanakan suatu sebuah perencanaan bersama. Lebih dari dalam
proses perencanaan hendaknya memperhatikan pendapat dan aspirasi bersama, Islam
menurut Asnawir dalam bukunya Manajemen Pendidikan, paling
tidak dalam menyusun perencanaan pendidikan, termasuk perencanaan pendidikan
Islam, perlu memperhatikan empat unsur, pertama tujuan hendaknya jelas, yang
tercakup perumusan sasaran untuk mencari solusi dari problem yang ada. Kedua,
menetapkan teknik pengumpulan dan pengolahan data. Ketiga, berorentasi ke masa
depan yang bersifat prediksi. Keempat, adanya kegiatan yang tersusun, terangkai
untuk mencapai tujuan. Keempat unsur tersebut hendaknya menjadi
perhatian bagi manajer sebelum menyusun perencanaan. Hal ini perlu karena
berhubungan dengan kualitas, efektifitas dan efesiensi dalam isi kebijakan yang
tersusun dalam perencanaan.
Selanjutnya selain
memperhatikan unsur-unsur tersebut pelu diperhatikan syarat-syarat dalam
menyusun perencanaan, yaitu pertama, perencanaan dalam lembaga pendidikan Islam
hendaknya memperhatikan dan didasarkan kepada tujuan yang jelas. Kedua, dalam
perencanaan hendaknya mengutamakan aspek kesederhanaan, realistis dan praktis.
Ketiga, terinci dan memuat segala uraian, klasifikasi kegiatan dan rangkaian
kegiatan sehingga memudahkan pelaksanaan serta memedomaninya. Keempat, memperhatikan
fleksibilitas sehingga mudah beradaptasi dengan keadaan, kebutuhan dan kondisi
dan situasi. Kelima, menghindari duplikasi dalam pelaksanaannya. Dari uraian tersebut tergambar bahwa
perencanaan dilakukan terlebih dahulu sebelum pelaksanaan, di sisi lain,
perencanaan di susun berdasarkan prioritas, efektif dan efesien.
Perencanaan menurut
Asnawir adalah kegiatan yang harus dilakukan pada tingkat permulaan, lebih dari
itu perencanaan merupakan aktifitas pemikiran, pemilihan rangkaian tindakan
yang mengarah kepada tercapainya tujuan yang ingin diraih. Menurut Asnawir
langkah –langkah perencanaan hendaknya meliputi hal-hal sebagai berikut: Pertama, menentukan dan merumuskan
tujuan yang hendak dicapai. Kedua, meneliti masalah-masalah atau
pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan. Ketiga, mengumpulan data atau
informasi-informasi yang diperlukan. Keempat menentukan tahap-tahap atau
rangkaian tindakan. Kelima, merumuskan bagaimana masalah-masalah tersebut akan
dipecahkan, dan bagaimana pekerjaan-pekerjaan tersebut di selesaikan. Keenam, menentukan
siapa yang akan melakukan dan apa yang mempengaruhi pelaksanaan dari tindakan
tersebut. Ketujuh, menentukan cara bagaiman mengadakan perubahan dalam
penyusunan rencana.
Ketujuh hal perlu
mendapat perhatian dari para menejer yang akan menyusun perencanaan. Jika tidak
diperhatian, maka rencana yang disusun dianggap gagal. Kegagalan tersebut
kemungkinan lebih besar jika dibandingkan dengan perencanaan yang memperhatikan
ketujuh hal tersebut. Dengan demikian ketujuh hal tersebut hendaknya menjadi
perhatian para penyusun perencanaan agar tercapai tujuan. bersama. Hal lain
yang perlu juga mendapat perhatian dalam menyusun perencanaan adalah jelasnya
tujuan yang ingin dicapai, jelasnya tujuan yang kan dicapai, jelasnya potensi
yang ada dan yang diharapakan, perlu keseimbangan, kesinambungan, koordinasi,
keutuhan, data yang tepat dan menyeluruh serta adanya fleksibilitas.
Hal lain yang perlu
mendapatkan perhatian adalah sebagai berikut; pertama perencanaan pendidikan
hendaknya mengutamakan nilai- nilai manusiawi, karena pada dasarnya pendidikan
membangun manusia. Kedua perencanaan pendidikan hendaknya memberikan kesempatan
untuk mengembangkan segala potensi peserta didik seoptimal mungkin. Ketiga
perencanaan pendidikan hendaknya memberikan kesempatan yang kepada peserta
didik. Keempat, perencanaan pendidikan hendaknya menyeluruh dan sistematis
terpadu serta tersusun logis dan rasional. Kelima, perencanaan pendidikan
hendaknya bereorientasi kepada pembangunan sumber daya manusia. Keenam,
perencanaan pendidikan hendaknya dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitan
dengan berbagai komponen pendidikan secara sistematis. Ketujuh, perencanaan
pendidikan hendaknya menggunakan sumber daya secermat mungkin karena sumber
daya yang tersedia langka. Kedelapan, perencanaan pendidikan hendaknya
beroreintasi kepada masa datang, karena pendidikan adalah proses jangka panjang
yang kesemua itu untuk menghadapi masa depan. Kesembilan, perencanaan lembaga
pendidikan hendaknya responsif terhadap kebutuhan yang berkembang di tengah
masyarakat. Kesepuluh, perencanaan lembaga pendidikan hendaknya sarana untuk
mengembangkan inovasi pendidikan hingga pembaharuan terus menerus.
Dari kutipan tersebut
tergambar dengan jelas bahwa perencanaanm lembaga pendidikan Islam sangat
rumit. Dengan demikian perencanaan tidak dapat dilakukan tanpa adanya pemikiran
yang matang komprehensif dan rasional. Untuk itu perhatian terhadap
langkah-langkah perencanaan dan segala yang berkaitan dengan perencanaan
penting bagi para manajer.
Paling tidak dalam
penyusunan perencanaan hendaknya memenuhi hal tersebut, jika hal tersebut tidak
dilalui maka ada kemungkinan renaca yang telah dibuat akan sulit untuk di
realisasikan. Dengan demikian untuk menghindarkan dari kegagalan dalam menyusun
perencanaan, langkah terbaik adalah menggunakan langkah-langkah yang telah
teruji kebenarannya dalam menyusun perencanaan.
D.
Ciri-Ciri Perencanaan Lembaga Pendidikan Islam
Ada beberapa ciri-ciri
perencanaan lembaga pendidikan Islam adalah sebagai berikut: pertama,
perencanaan pendidikan adalah suatu proses intelektual yang berkesinambungan
dalam mengananlisis, merumuskan dan menimbang serta memutuskan dengan keputusan
yang diambil harus mempunyai konsistensi internal dan berhubungan secara
sistematis dengan keputusan-keputusan lain. Kedua perencanaan pendidikan selalu
memperhatikan masalah, kebutuhan, situasi, dan tujuan, keadaan perekonomian,
keperluan penyediaan dan pengembangan tenaga kerja bagi pembangunan nasional
serta memperhatikan factor sosial politik merupakan bagian integral dari
perencanaan pembangunan yang menyeluruh. Ketiga, tujuan perencanaan pendidikan
adalah menyusun kebijaksanaan dan mengggariskan strategi pendidikan yang sesuai
dengan kebijakan pemerintah yang menjadi dasar pelaksanaan pendidikan pada masa
yang akan datang. Keempat perencanaan pendidikan sebagai perintis atau pelopor
dalam kegiatan pembangunan hendaknya memperhatikan masa depan dan bersifat inovatif,
kuantitatif dan kualitatif. Kelima, perencanaan pendidikan selalu memperhatikan
dan menganalisa factor ekologi, baik internal maupun eksternal. Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat
dipahami dalam kontek pelaksanaannya tidak dapat diukur dan dinilai secara
instant dan cepat, tetapi membutuhkan waktu yang lama, terutama yang bersifat
kualitatif. Kenapa membutuhkan waktu yang lama? Karena pendidikan adalah sebuah
pranata, pranata social yang hasilnya membutuhkan waktu yang lama.
E.
Prinsip-Prinsip Perancangan dan Implementasi Perencanaan
Sebagaimana yang telah
dibahas sebelumnya, perencanaan lembaga pendidikan sangat komplek dan rumit,
untuk itu perlu mengetahui prinsip-prinsip dalam proses implementasi dan
penyusunan rancangannya. Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah; pertama,
perencanaan adalah interdisipliner, karena pendidikan sesungguhnya
interdispliner terutama yang terkait dengan pembangunan manusia. Kedua,
perencanaan bersifat fleksibel, dalam arti tidak kaku tetapi bersifat dinamis
serta responsive terhadap tuntutan masyarakat terhadap pendidikan. Ketiga,
perencanaan itu obyektif rasional, dalam arti untuk kepentingan umum . keempat,
perencanaan dunilai dari apa yang sudah dimiliki. Kelima, perencanaan adalah
wahana untuk menghimpun kekuatan kekuatan secara terkoordinir. Keenam,
perencanaan disusun sesuai dengan data, perencanaan tanpa adata tidak memiliki
kekuatan yang dapat diandalkan. Ketujuh, perencanaan adalah mengendalikan
kekuatan sendiri, tidak bersandarkan kepada kekuatan orang lain. Kedelapan,
perencanaan bersifat komprehensif dan ilmiah, dalam arti mencakup aspek
esensial pendidikan dan disusun secara sistematik dengan menggunakan prinsip
dan konsep keilmuan. Prinsip prinsip tersebut berguna dalam
proses perancangan perencanaan lembaga pendidikan Islam.
F. Jenis
–Jenis Perencanaan
Menurut Asnawir ada tujuh
jenis-jenis perencanaan,yang kesemua itu dilihat dari sudut
pandang berbeda, di antara jenis-jenis perencanaan tersebut adalah;
Dilihat dari segi waktu, dari segi waktu
perencanaan dapat dibagi menjadi tiga yaitu pertama perencanaan jangka panjang,
yang termasuk dalam perencanaan jangka panjang adalah rentang waktu sepuluh
sampai tiga puluh tahun. Perencanaan jangka panjang ini bersifat umum, dan
belum terperinci. Kedua, perencanaan jangka menengah, jangka menengah biasanya
mempunyai jangka waktu antara lima sampai sepuluh tahun. Ketiga, perencanaan
jangka pendek, yaitu perencanaan yang mempunyai jangka waktu antar satu tahun
sampai lima tahun. Dilihat dari segi sifatnya perencanaan dibagi menjadi dua
yaitu pertama, perencanaan kuantitatif, yang termasuk perencaan kuantitatif
adalah semua target dan sasaran dinyatakan dengan angka-angka. Kedua,
perencanaan kualitatif adalah perencanaaan yang ingin dicapai dinyatakan secara
kualitas.
Perencanaan dari segi
luas wilayah, perencanaan pendidikan dipandang dari segi luas wilayah dapat
dibagi menjadi empat, yaitu pertama perencanaan local, yaitu perencanaan yang
disusun dan ditetapkan oleh lembaga-lembaga yang ada di daerah-daerah dengan
sifat yang terbatas. Kedua, perencanaan regional adalah perencanaan yang
ditetap[kan di tingkat propinsi.ketiga, perencanaan nasional, adalah
perencanaan di suatau Negara dan dijadikan dasar untuk perencanaan local dan
regional. Keempat, perencanaan internasional yaitu perencanaan oleh bebebrapa
Negara yang melewati batas-batas suatu negara yang dilaksanakan melalui dari
Negara-negara tersebut.
Perencanaan dari segi
luas jangkauan terbagi menjadi dua yaitu pertama, perencanaan makro yaitu
perencanaan yang bersifat universal, menyeluruh dan meluas. Kedua perencanaan
mikro adalah perencanaan yang ditetapkan dan di susun berdasarkan kondisi dan
situasi tertentu. Dari segi prioritas pembuatnya perencanaan dapat dibagi
menjadi tiga, pertama perencanaan sentralisasi, yaitu perencanaan yang
ditentukan oleh pemerintah pusat pada suatu Negara. Kedua perencanaan
desentralisasi yaitu perencanaan yang di susun oleh masing-masing wilayah.
Ketiga perencanaan dekonsentrasi yaitu perencanaan gabungan antara sentralisasi
dengan desentralisasi.
Dari segi obyek
perencanaan dibagi menjadi dua: pertama perencanaan rutin yaitu perencanaan
yang di susun untuk jangka waktu tertentu yang dilakukan setiap tahun. Kedua
perencanaan eksendental, yaitu perencanaan yang di susun sesuai dengan
kebutuhan yang mendesak pada saat tertentu. Dari segi proses, perencanaan dapat
dibagi menjadi tiga kelompok, pertama perencanaan filosofikal, yaitu
perencanaan yang bersifat umum, hanya berupa konsep-konsep dari nilai yang
bersifat ideal dan masih memerlukan penafsiran-penafsiran dalam bentuk program.
Kedua, perencanaan programial adalah perencanaan berupa penjabaran dari
perencanaan filosofikal. Ketiga perencanaan operasional yaitu perencanaan yang
jelas dan dapat dilakukan.
G.
Rencana Startegi Dalam Lembaga Pendidikan Islam
Perencanaan strategi
adalah usaha sistematis formal dari suatu perusahaan untuk memperjelas sasaran
utama, kebijakan-kebijakan dan strategi. Menurut Asnawir perencanaan startegik
adalah proses pemikiran tujuan perusahaan atau organisasi, penentuan kbijakan,
dan program yang perlu untuk mencapai tujua tertentu. Untuk mencapai tujuan
tersebut perlu di susun perencanaan, di antara metode perencanaan strategic adalah
sebagai berikut: pertama pendekatan dari atas ke bawah, biasanya dibuat oleh
prusahaan yang bersifat sentralisasi. Kedua pendekatan dari bawah, yaitu metode
rancangan perencanaan darai bawah ke atas. Ketiga pendekatan interkatif adalah
pendekatan manajer dari pusat bersama direksi-direksi berdialog secara terus
menrus selama penyusunan rencana, termasuk juga berdialog dengan para staf
pusat dan divisi-divisi. Keempat pendekatan perencanaan secara tim adalah
pendekatan yang lebih banyak dilakukan pada perusahaan kecil dan bersifat
sentralisasi. Kelima pendekatan tingkat ganda adalah pendekatan strategi
dirumuskan secara independen pada tingkat korporasi dan pada tingkat unit
bisnis.
Dalam perencanaan strategic
dalam diambil contoh adalah perencanaan strategic di perguruan tinggi agama
Islam. Di antara kondisi obyektifnya adalah, pertama profil Pergururn Tinggi
Agam Islam,meliputi bidang kelembagaan, bidang ketenagaan, kurikulum,
perpustakaan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaaan, sarana dan
prasarana pendidikan. Kedua kekuatan yang tersedia, meliputi kelembagaan letak
geografis, factor hsitoris ketenagaan, kurikulum, perpustakaan, penelitian,
penerbitan danpengabdian masyarakat. Ketiga kelemahan-kelemahan yang masoih
dipunyai, meliputi persepsi masyarakat, tradisi akademis dan etos kerja,
pendanaan, pengembangan sumber daya manusia,otonomi lembaga, ketenagaan,
perpustakaan, penelitian, penerbitan, dan pengabdian masyarakat, sarana dan
prasarana. Keempat beberapa peluang yang meliputi kelembagaan, ketenagaan,
kurikulum, perpustakaan, penelitian, penerbitan, dan pengabdian kepada
masyarakat, kemahasiswaan, saran dan parsarana. Kelima, tantangan meliputi
kelembagaan, ketenagaan, kurikulum, perpustakaan, penelitian, penerbitan dan
pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaan, sarana dan prasaran
http://www.riwayat.net/2009/10/perencanaan-dalam-lembaga-pendidikan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar