Jumat, 15 Juni 2012

observasi efek psikologi bagi orang tua dan siswa terhadap pendidikan


HASIL PENELITIAN
EFEK PSIKOLOGIS BAGI ORANG TUA DAN SISWA TERHADAP PENDIDIKAN

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas IndividuPenelitianMata Kuliah Psikologi Pendidikan dan Perkembangan
Dosen : Yulia Rachmawati







Oleh : Sopaul Hamidah
Semester : 4B
Jurusan : Tarbiyah



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM DARUL ARQAM
(STAIDA) MUHAMMADIYAH GARUT
2011-2012


KATA PENGANTAR
          Dengan segala fuji dan syukur saya panjatkan kepada Alloh SWT yang telah memberi berbagai nikmat dan kesehatan serta kekuatan sehingga saya dapat menyelesaikan penelitian ini.
            Dalam menyusunan hasil penenlitian ini merupakan salah satu tugas individu untuk mengetahui tentang Efek Psikologis Bagi Orang Tua dan Siswa Terhadap Pendidikan, yang merupakan indikator meningkatkan kualitas dan fropesionalisme kita untuk bekal menjadi guru dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta meningkatkan keimanan kita kepada Alloh SWT.
            Penelitian ini tidak  akan tersusun tanpa pengorbanan banyak pihak, jazaakumullohu khoiron katsiro, saya sampaikan kepada yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, semoga Alloh SWT membalas semua kebaikannya.
            Meskipun penyusunan hasil penelitian ini jauh dari sempurna, namun hal itu supaya dapat dijadikan bacaan bagi umat muslim dan muslimat.


Garut, 14 Deseember 2011
                                                                                                            Hormat kami

                                                                                                           
      Penulis




BAB 1
PENDAHULUAN
            Banyaknya keluhan orang tua murid khususnya dari golongan menengah ke bawah yang masih merupakan kalangan mayoritas di Indonesia mengenai besarnya biaya pendidikan yang harus mereka keluarkan untuk menyekolahkan anak-anak mereka, menimbulkan suasana prihatin di kalangan akademis maupun non akademis yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat di dalam pendidikan.
Padahal seperti kita ketahui hampir 20% APBN Pemerintah Indonesia sudah dialokasikan untuk sektor pendidikan, bahkan Pemerintah telah mencanangkan Program Wajib Belajar 6 tahun, sejak tahun 1984 dan pelaksanaan Program Wajib Belajar 9 tahun yang telah dicanangkan sejak tahun 1994, Pemerintah juga mengeluarkan Program BOS dan BOS buku (BOS = Biaya Operasional Sekolah) untuk para siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Pertama, pemberian program beasiswa bagi anak didik dari kalangan orang tua yang kurang mampu, sedangkan gaji dan tunjangan kepada para pendidik sekarang ini relatif cukup memadai, lalu mengapa sekolah harus mahal ?!! Di beberapa negara tetangga dekat kita justru ada yang membebaskan masalah pendidikan terhadap Warga negaranya alias sekolah gratis karena mereka menyadari pentingnya aset sumber daya manusia sebagai masa depan bangsa dan negara mereka serta rasa tanggung jawab tinggi terhadap Warga negaranya.
Mereka yang berekonomi rendah seharusnya pemerintah bisa memaklumi perekonomian orang yang menengah ke-bawah yang menyebabkan banyak anak tidak bisa sekolah sampai-sampai ada yang bunuh diri. Orang tua yang berkorban demi anak pun tidak bisa berbuat apa-apa dengan biaya uang sekolah yang besar.
Padahal Program BOS dan beasiswa itu bisa memberikan kesempatan kepada siswa yang kurang mampu untuk tetap bersekolah. Motivasi intrinsic murid juga harus terangsang serta diajari untuk tidak menyerah dalam memperoleh ilmu pengetahuan bukankah pengetahuan didapat tidak harus bersekolah? Mengapa harus nekad bunuh diri? Nasehat dari orang tua untuk mendukung anaknya untuk tidak sesat pikir. Maka peran psikologi pendidikan sangatlah penting sebab ilmu pengetahuan tidak harus didapat dari sekolah, perkembangan teknologi yang begitu pesatnya bisa menjadi sarana bagi murid untuk belajar.
BAB II
PENELITIAN MENGENAI EFEK PSIKOLOGI
 BAGI ORANG TUA DAN SISWA TERHADAP PENDIDIKAN
1.    Definifi psikologi, Pendidikan, dan psikologi pendidikan
Psikologi yang dalam istilah lama disebut ilmu jiwa itu berasal dari kata  bahasa Inggris psychology. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu: psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi memang berarti ilmu jiwa. Sedangkan Pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu kata ini mendapat awalan me sehingga menjadi “mendidik”, artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memlihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Selanjutnya, pengertian “pendidikan” menurut kamus besar bahasa indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam pengertian yang lebih luas, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Adapun definisi psikologi pendidikan menurut sebagian ahli adalah subdisiplin psikologi, bukan psikologi itu sendiri. Mereka manganggap psikologi pendidikan tidak memiliki teori, konsep dan metode sendiri. Hal ini konon terbukti dengan banyaknya hasil-hasil riset psikologi lain yang diangkat menjadi teori, konsep, dan metode psikologi pendidikan. Salah seorang ahli yang menganggap pendidikan sebagai subdisiplin psikologi terapan (applicable) adalah Arthur S. Reber (1988). Seorang guru besar psikologi pada Brooklyn Colleg, University of New York City, Universitas of British Columbia Canada, dan uga pada University of Innsbruck Australia.
2.    Devinisi Belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
3. Tujuan Belajar dan Tujuan Pendidikan Menurut Islam
a. Tujuan Belajar
Pada hakekatnya merupakan proses kegiatan secara berkelanjutan dalam rangka perubahan prilakun peserta didik secara konstruksi. Hal ini sejalan dengan undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yang menyatakan, pendidikan adalah uasaha sadar dan terencana untuk mewuudkan suasana belajar dan proses spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
b. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah suatu factor yang amat sangat penting di dalam pendidikan, karena tujuan merupakan arah yang hendak dicapai atau yang hendak di tuju oleh pendidikan. Begitu juga dengan penyelenggaraan pendidikan yang tidak dapat dilepaskan dari sebuah tujuan yang hendak dicapainya. Hal ini dibuktikan dengan penyelenggaraan pendidikan yang di alami bangsa Indonesia. Tujuan pendidikan yang berlaku pada waktu Orde Lama berbeda dengan Orde Baru. Demikian pula sejak Orde Baru hingga sekarang, rumusan tujuan pendidikan selalu mengalami perubahan dari pelita ke pelita sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan kehidupan masyarakat dan negara Indonesia.
Rumusan tujuan pendidikan yang dikemukakan di dalam Ketetapan MPRS dan MPR serta UUSPN No. 2 Tahun 1989 adalah sebagai berikut:
a. Tap MPRS No. XXVII/ MPRS/ 1996 Bab II Pasal 3 dicantumkan: “ Tujuan pendidikan membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki Pembukaan dan Isi Undang-Undang Dasar 1945”.
b. Tap MPR No. IV/ MPR / 1978 menyebutkan “ Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan bertujuan meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”.
C. Di dalam Tap MPR No. II / MPR/ 1988 dikatakan: “Pendidikan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkeperibadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan terampil serta sehat jasmani dan rohani”.
d. Di dalam UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal 4 dikemukakan: Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki penetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan
4. Tujuan Pendidikan Menurut Islam
Tujuan ialah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan sesuatu kegiatan. Karena itu Tujuan ilmu pendidikan menurut islam yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau kelompok orang yang melaksanakan pendidikan islam.
5.    Faktor yang Mempengaruhi Pendidikan
Kelancaran proses pendidikan dan keberhasilan pendidikan tidak dapat dibebankan secara berat pada salah satu faktor pendidikan. Faktor yangmempengaruhi pendidikan adalah anak didik, alat pendidikan, tujuan pendidikan, pendidik dan lingkungan pendidikan. Kelima faktor pendidikan tersebut salingberkaitan satu dengan yang lainnya. Dari kelima faktor pendidikan di atas, faktor yang paling menentukan ialah guru atau pendidik, seperti pembinaan yang telah diperolehnya, kemampuan, atau keterampilannya dalam melakukan tugas sebagai guru, kepribadiannya, atau falsafafh hidup yang dianutnya, tujuan guru dalam melakukan tugas guru, teori belajar dan mengajar yang dianutnya. Semua itu akan memberi cap pada pekerjaannya danmenentukan hasil pendidikan yang diberikannya
Adapun contoh dari faktor lain yang mempengaruhi pendidikan ialah seperti yang telah saya teliti, tepatnya di Kp Kalapa dua rt/rw 04/06, Des. Mekarsari, Kec. Cilawu, Kab. Garut, termulai dari tanggal 28 Juni-10 Juli. Dimana disana terdapat beberapa keluarga dari golongan ekonomi bawah/miskin, golongan ekonomi sedang/ menengah, dan golongan ekonomi atas/kaya. Keluarga golongan tersebut mempunyai masing-masing anak yang sekolah di tingkat SD, SMP,SMA,SMK, dan sederajat.
Dari sekian banyak pelajar tingkat SD, SMP, SMA,SMK dan Sederajat tadi setelah lulus nanti, tidak sedikit dari mereka akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Tapi apa jadinya jika putera-puteri bangsa ini tidak mampu tapi berbakat dan berprestasi,harus putus sekolah? Atau melanjutkan sekolah yang tidak diharafkan oleh anak atau orang tuanya.
Berikut ada sebuah kisah nyata yang menurut saya cukup menarik untuk di cermati dan di ambil hikmahnya.
Ø Golongan Bawah/Miskin
Seorang anak berinisial N baru selesai Ujian Nasional tingkat SMA di SMA 8 Garut, si anak memiliki sebuah pemikiran yang sebenarnya pintar, kreatif dan maju, sayangnya pemikirannya ini tidak sejalan dengan ekonomi orang tuanya. Setelah menerima ijasah SMA nya nanti, sang anak berangan-angan untuk melanjutkan pendidikanya ke tingkat perguruan tinggi. Dengan penghasilan orang tuanya yang hanya pas-pas an, bapaknya hanya seorang petani dan ibunya seorang pembantu rumah tangga. Mungkin impian anak tadi untuk bisa melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah hanya sebatas angan-angan. Tetapi sang anak tidak langsung menyerah. Biasanya perguruan tinggi negeri tiap tahunnya membuka penerimaan mahasiswa baru lewat jalur undangan kepada setiap sekolah tingkat menengah atas (SMA). Sekolah biasanya memberi fasilitas jalur undangan tersebut kepada para siswa yang berprestasi. Karena sang anak selama di tingkat SMA berprestasi, Sang anak memutuskan untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur undangan tersebut. Berharap dengan jalur undangan ini sang anak mendapat keringanan dalam masalah biaya kuliah karena memang dia berprestasi. Sang anak memang diterima di salah satu perguruan tinggi yang dia pilih.
Namun kebahagiaan dan kebanggaannya berubah drastis menjadi kekecewaan dan kesedihaan. Impian anak tadi untuk mendapat keringanan biaya kuliah dengan masuk ke perguruan tinggi lewat jalur undangan, ternyata hanya mimpi, Dengan berkedok uang fasilitas, uang gedung, dan uang ekstrakurikuler, yang tidak tanggung mahalnya yang selama ini kita lihat setiap masuk perguruan tinggi lewat jalur seleksi yang dimasa penulis disebut SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru) ternyata tidak hanya jalur seleksi saja berlaku,biaya-biaya tersebut juga berlaku terhadap mahasiswa yang berprestasi yang diterima lewat jalur undangan ke setiap sekolah-sekolah. Sang anak akhirnya menyerah juga, impiannya pun untuk melanjutkan pendidikannya di tingkat perguruan tinggi hanya sebatas mimpi karena mahalnya biaya pendidikan.
Ø Golongan Menengah
Seorang anak baru selesai Ujian Nasional tingkat SMP, dia adalah seorang anak yang memiliki sebuah pemikiran yang sebenarnya pintar, rajin dan mempunyai semangat yang tinggi,  sayangnya pemikirannya ini tidak sejalan dengan ekonomi orang tuanya. Sebut saja dia si L, setelah menerima ijasah SMP nya, si L mempunyai impian untuk melanjutkan pendidikanya ke tingkat Sekolah Menengah Atas yang ia paporitkan, sekolah tersebut sekolah formal, terkenal, terletak ditengah kota, dan mempunyai prestasi . Dengan penghasilan orang tuanya yang berkecukupan, bapaknya hanya seorang pegawai di Pabrik Teh Perkebunan dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Si anak tidak bisa untuk melanjutkan kesekolah tersebut, karena sekolah yang dipaporitkannya itu cukup mahal dan jauh dari rumah. Karena mahal dalam pembiayaan uang daftar, bangunan dan uang SPP, belum lagi untuk ongkosnya sehari-hari. Membuat kedua orang tuanya menggelengkan kepala. Melihat kondisi seperti ini, orang tua si anak tersebut akhirnya memasukan anaknya kesekolah lain yang tidak begitu mahal dan jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dari rumahnya, tanpa melihat sekolah tersebut berprestasi atau tidak dan tidak memikirkan perasaan si anak, menurutnya yang penting anaknya bisa melanjutkan kesekolah menengah atas.
Ø Golongan Atas/Kaya
Seorang anak bernama F yang telah selesai dari tingkat Sekolah Dasar. Ia seorang anak yang pintar, berbakat, dan kreatif serta mempunyai keinginan untuk melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Menengah Atas yang formal, mahal, berprestasi, dan Bertaraf Internasional dikota Jakarta. Ayahnya bekerja sebagai seorang pengusaha Matrial dikota Bandung dan Ibunya adalah seorang Pembisnis pakaian kedaerah luar kota. Karena keadaan orang tuanya berada/kaya, mereka tidak begitu mempermasalahkan soal biaya pendidikan anaknya. Sehingga keinginan si anak tersebut bisa tercapai. Menurutnya dengan memasukan anaknya kesekolah tersebut, semuanya dapat terselesaikan, si anak akan merasa senang, dan dapat membuat anaknya makin berprestasi. Akan tetapi karena si anak jauh dari orang tua dan kedua orang tuanya sibuk, serta jarang komunikasi, si anakpun jadi tidak terperhatikan.
Karena si anak merasa kurang diperhatikan dan kurangnya kasih sayang dari orang tuannya, si anakpun menjadi malas untuk  pergi sekolah dan belajar. Sehingga prestasi disekolahnya menurun, dan si anak menjadi bandel, sering bolos, dan sering main keluar untuk mencari perhatian dari orang lain.
Selain anak dari keluarga kaya tadi, ada juga anak dari keluarga kaya lain bernama D. Anak ini baru selesai dari bangku Sekolah Menengah Pertama dan baru mau melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas. Ia seorang anak dari ayah yang bekerja disuatu bank dan bekerja sebagai dosen disuatu perguruan tinggi, dan ibunya juga bekerja sebagai Guru PNS. Karena kedua orang tuanya sangat mengerti akan pendidikan, si anakpun dimasukan kesekolah yang menurutnya bagus, mempunyai fasilitas komplit, berkualitas, berbasis internasional, mahal dan mempunyai prestasi yang gemilang. Meski biaya sekolah tersebut cukup mahal, mereka tidak mempersulitkan soal pembiayaan, selama sekolah tersebut memberikan pendidikan yang sesuai, membrikan pendidikan yang bermutu kepada anak didiknya, dan dapat meningkatkan prestasi anaknya dalam belajar. Si anakpun begitu menyukai sekolah yang telah dipilih oleh orang tuanya, dan menambah semangat si anak dalam belajar disekolahnya yang baru. Sehingga tidak ada permasalahan yang begitu dikhawatirkan oleh orang tua dan si anak tersebut.
Keluarga sebagai rumah pertama kita sebgai pelajar/siswa seharusnya orang tua lebih memperhatikan anaknya member support kepada mereka sebab ekonomi keluarga yang tidak mampu nasehatilah dia, motivasi dirinya. Pendidikan anak, mengatakan bahwa anak hendaknya mulai ‘dididik’ sejak lahir. Menjadi orang tua yang bertanggungjawab dan dapat memberikan bekal pendidikan bagi anaknya memang tidak mudah. Hingga kini, tidak ada sekolah untuk menjadi bapak atau ibu, sehingga kesiapan seorang ayah dan ibu sangatlah diperhatikan sejak dari awal memutuskan untuk membina rumah tangga.







PENUTUP
Keluargasebagairumahpertamakitasebgaipelajar/siswaseharusnya orang tualebihmemperhatikananaknyamemberi support kepadamerekasebabekonomikeluarga yang tidakmampunasehatilahdia, bagi yang mampulebihmeningkatkanprestasibelajarnyalagidan orang tuanyaselalutetapmemotivasinya, danbagi yang ekonomisedangbisilewatmotivasi intrinsic danmotivasiekstrinsikseretamotivasidirinya. Pendidikananak, mengatakanbahwaanakhendaknyamulai ‘dididik’ sejaklahir.Menjadi orang tua yang bertanggungjawabdandapatmemberikanbekalpendidikanbagianaknyamemangtidakmudah.Hinggakini, tidakadasekolahuntukmenjadibapakatauibu, sehinggakesiapanseorang ayah danibusangatlahdiperhatikansejakdariawalmemutuskanuntukmembinarumahtangga.Mengenaisebuahpermasalahpendidikanygberhubungandengan status ekonomi, menurutteoribimbinganbelajar :
Pendidikanseharusnyamasihdapatterusberjalantanpaharusdibenturkanolehpermasalahmengenaimasalahkarna di Indonesia khususnyatelahbanyakdipergunakanjasa-jasabeasiswabagipara murid2 ygberprestasitapiidakmampudan murid2 ygmemang benar2 inginbersekolahtapisamasekalitidakmampu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar