HASIL PENELITIAN
EFEK PSIKOLOGIS BAGI ORANG TUA DAN SISWA TERHADAP PENDIDIKAN
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas IndividuPenelitianMata Kuliah Psikologi Pendidikan dan Perkembangan
Dosen : Yulia Rachmawati
Oleh : Sopaul Hamidah
Semester : 4B
Jurusan : Tarbiyah
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM DARUL ARQAM
(STAIDA) MUHAMMADIYAH GARUT
2011-2012
KATA PENGANTAR
Dengan segala fuji dan syukur saya panjatkan kepada Alloh SWT yang
telah memberi berbagai nikmat dan kesehatan serta kekuatan sehingga saya dapat
menyelesaikan penelitian ini.
Dalam menyusunan
hasil penenlitian ini merupakan salah satu tugas individu untuk mengetahui
tentang Efek Psikologis Bagi Orang Tua dan Siswa Terhadap Pendidikan, yang
merupakan indikator meningkatkan kualitas dan fropesionalisme kita untuk bekal
menjadi guru dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta
meningkatkan keimanan kita kepada Alloh SWT.
Penelitian ini
tidak akan tersusun tanpa pengorbanan
banyak pihak, jazaakumullohu khoiron katsiro, saya sampaikan kepada yang telah
membantu dalam menyelesaikan makalah ini, semoga Alloh SWT membalas semua
kebaikannya.
Meskipun
penyusunan hasil penelitian ini jauh dari sempurna, namun hal itu supaya dapat
dijadikan bacaan bagi umat muslim dan muslimat.
Garut, 14 Deseember 2011
Hormat
kami
Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
Banyaknya keluhan
orang tua murid khususnya dari golongan menengah ke bawah yang masih merupakan
kalangan mayoritas di Indonesia mengenai besarnya biaya pendidikan yang harus
mereka keluarkan untuk menyekolahkan anak-anak mereka, menimbulkan suasana prihatin
di kalangan akademis maupun non akademis yang secara langsung maupun tidak
langsung terlibat di dalam pendidikan.
Padahal seperti kita ketahui hampir 20% APBN Pemerintah Indonesia
sudah dialokasikan untuk sektor pendidikan, bahkan Pemerintah telah mencanangkan
Program Wajib Belajar 6 tahun, sejak tahun 1984 dan pelaksanaan Program Wajib
Belajar 9 tahun yang telah dicanangkan sejak tahun 1994, Pemerintah juga
mengeluarkan Program BOS dan BOS buku (BOS = Biaya Operasional Sekolah) untuk
para siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Pertama, pemberian program
beasiswa bagi anak didik dari kalangan orang tua yang kurang mampu, sedangkan
gaji dan tunjangan kepada para pendidik sekarang ini relatif cukup memadai,
lalu mengapa sekolah harus mahal ?!! Di beberapa negara tetangga dekat kita
justru ada yang membebaskan masalah pendidikan terhadap Warga negaranya alias
sekolah gratis karena mereka menyadari pentingnya aset sumber daya manusia
sebagai masa depan bangsa dan negara mereka serta rasa tanggung jawab tinggi
terhadap Warga negaranya.
Mereka yang berekonomi rendah seharusnya pemerintah bisa memaklumi
perekonomian orang yang menengah ke-bawah yang menyebabkan banyak anak tidak
bisa sekolah sampai-sampai ada yang bunuh diri. Orang tua yang berkorban demi
anak pun tidak bisa berbuat apa-apa dengan biaya uang sekolah yang besar.
Padahal Program BOS dan beasiswa itu bisa memberikan kesempatan
kepada siswa yang kurang mampu untuk tetap bersekolah. Motivasi intrinsic murid
juga harus terangsang serta diajari untuk tidak menyerah dalam memperoleh ilmu
pengetahuan bukankah pengetahuan didapat tidak harus bersekolah? Mengapa harus
nekad bunuh diri? Nasehat dari orang tua untuk mendukung anaknya untuk tidak
sesat pikir. Maka peran psikologi pendidikan sangatlah penting sebab ilmu
pengetahuan tidak harus didapat dari sekolah, perkembangan teknologi yang
begitu pesatnya bisa menjadi sarana bagi murid untuk belajar.
BAB II
PENELITIAN MENGENAI EFEK PSIKOLOGI
BAGI ORANG TUA DAN SISWA
TERHADAP PENDIDIKAN
1.
Definifi
psikologi, Pendidikan, dan psikologi pendidikan
Psikologi yang dalam istilah lama disebut ilmu jiwa itu berasal
dari kata bahasa Inggris psychology.
Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek
(Yunani), yaitu: psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi
secara harfiah psikologi memang berarti ilmu jiwa. Sedangkan Pendidikan berasal
dari kata “didik”, lalu kata ini mendapat awalan me sehingga menjadi
“mendidik”, artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memlihara dan memberi
latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan dan pimpinan mengenai akhlak dan
kecerdasan pikiran. Selanjutnya, pengertian “pendidikan” menurut kamus besar
bahasa indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan. Dalam pengertian yang lebih luas, pendidikan dapat diartikan sebagai
sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh
pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.
Adapun definisi psikologi pendidikan menurut sebagian ahli adalah subdisiplin
psikologi, bukan psikologi itu sendiri. Mereka manganggap psikologi pendidikan
tidak memiliki teori, konsep dan metode sendiri. Hal ini konon terbukti dengan
banyaknya hasil-hasil riset psikologi lain yang diangkat menjadi teori, konsep,
dan metode psikologi pendidikan. Salah seorang ahli yang menganggap pendidikan
sebagai subdisiplin psikologi terapan (applicable) adalah Arthur S. Reber
(1988). Seorang guru besar psikologi pada Brooklyn Colleg, University of New
York City, Universitas of British Columbia Canada, dan uga pada University of
Innsbruck Australia.
2.
Devinisi
Belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini
berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat
bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di
sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
3. Tujuan Belajar dan Tujuan Pendidikan Menurut Islam
a. Tujuan Belajar
Pada hakekatnya merupakan proses kegiatan secara berkelanjutan
dalam rangka perubahan prilakun peserta didik secara konstruksi. Hal ini
sejalan dengan undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003
yang menyatakan, pendidikan adalah uasaha sadar dan terencana untuk mewuudkan
suasana belajar dan proses spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, dan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
b. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah suatu factor yang amat sangat penting di
dalam pendidikan, karena tujuan merupakan arah yang hendak dicapai atau yang
hendak di tuju oleh pendidikan. Begitu juga dengan penyelenggaraan pendidikan
yang tidak dapat dilepaskan dari sebuah tujuan yang hendak dicapainya. Hal ini
dibuktikan dengan penyelenggaraan pendidikan yang di alami bangsa Indonesia.
Tujuan pendidikan yang berlaku pada waktu Orde Lama berbeda dengan Orde Baru.
Demikian pula sejak Orde Baru hingga sekarang, rumusan tujuan pendidikan selalu
mengalami perubahan dari pelita ke pelita sesuai dengan tuntutan pembangunan
dan perkembangan kehidupan masyarakat dan negara Indonesia.
Rumusan tujuan pendidikan yang dikemukakan di dalam Ketetapan MPRS
dan MPR serta UUSPN No. 2 Tahun 1989 adalah sebagai berikut:
a. Tap MPRS No.
XXVII/ MPRS/ 1996 Bab II Pasal 3 dicantumkan: “ Tujuan pendidikan membentuk
manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang
dikehendaki Pembukaan dan Isi Undang-Undang Dasar 1945”.
b. Tap MPR No.
IV/ MPR / 1978 menyebutkan “ Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan
bertujuan meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan,
keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan
mempertebal semangat kebangsaan, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia
pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung
jawab atas pembangunan bangsa”.
C. Di dalam Tap
MPR No. II / MPR/ 1988 dikatakan: “Pendidikan Nasional bertujuan untuk
meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan
bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkeperibadian,
berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan
terampil serta sehat jasmani dan rohani”.
d. Di dalam UU
No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal 4
dikemukakan: Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
penetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang
mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan
4. Tujuan Pendidikan Menurut Islam
Tujuan ialah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau
sekelompok orang yang melakukan sesuatu kegiatan. Karena itu Tujuan ilmu
pendidikan menurut islam yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau
kelompok orang yang melaksanakan pendidikan islam.
5.
Faktor
yang Mempengaruhi Pendidikan
Kelancaran proses pendidikan dan keberhasilan pendidikan tidak
dapat dibebankan secara berat pada salah satu faktor pendidikan. Faktor yangmempengaruhi
pendidikan adalah anak didik, alat pendidikan, tujuan pendidikan, pendidik dan
lingkungan pendidikan. Kelima faktor pendidikan tersebut salingberkaitan satu
dengan yang lainnya. Dari kelima faktor pendidikan di atas, faktor yang paling
menentukan ialah guru atau pendidik, seperti pembinaan yang telah diperolehnya,
kemampuan, atau keterampilannya dalam melakukan tugas sebagai guru,
kepribadiannya, atau falsafafh hidup yang dianutnya, tujuan guru dalam
melakukan tugas guru, teori belajar dan mengajar yang dianutnya. Semua itu akan
memberi cap pada pekerjaannya danmenentukan hasil pendidikan yang diberikannya
Adapun contoh dari faktor lain yang mempengaruhi pendidikan ialah
seperti yang telah saya teliti, tepatnya di Kp Kalapa dua rt/rw 04/06, Des. Mekarsari,
Kec. Cilawu, Kab. Garut, termulai dari tanggal 28 Juni-10 Juli. Dimana disana
terdapat beberapa keluarga dari golongan ekonomi bawah/miskin, golongan ekonomi
sedang/ menengah, dan golongan ekonomi atas/kaya. Keluarga golongan tersebut
mempunyai masing-masing anak yang sekolah di tingkat SD, SMP,SMA,SMK, dan
sederajat.
Dari sekian banyak pelajar tingkat SD, SMP, SMA,SMK dan Sederajat
tadi setelah lulus nanti, tidak sedikit dari mereka akan melanjutkan pendidikan
ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Tapi apa jadinya jika putera-puteri bangsa
ini tidak mampu tapi berbakat dan berprestasi,harus putus sekolah? Atau
melanjutkan sekolah yang tidak diharafkan oleh anak atau orang tuanya.
Berikut ada sebuah kisah nyata yang menurut saya cukup menarik
untuk di cermati dan di ambil hikmahnya.
Ø Golongan Bawah/Miskin
Seorang anak berinisial N baru selesai Ujian Nasional tingkat SMA
di SMA 8 Garut, si anak memiliki sebuah pemikiran yang sebenarnya pintar,
kreatif dan maju, sayangnya pemikirannya ini tidak sejalan dengan ekonomi orang
tuanya. Setelah menerima ijasah SMA nya nanti, sang anak berangan-angan untuk
melanjutkan pendidikanya ke tingkat perguruan tinggi. Dengan penghasilan orang
tuanya yang hanya pas-pas an, bapaknya hanya seorang petani dan ibunya seorang
pembantu rumah tangga. Mungkin impian anak tadi untuk bisa melanjutkan
pendidikannya di bangku kuliah hanya sebatas angan-angan. Tetapi sang anak
tidak langsung menyerah. Biasanya perguruan tinggi negeri tiap tahunnya membuka
penerimaan mahasiswa baru lewat jalur undangan kepada setiap sekolah tingkat
menengah atas (SMA). Sekolah biasanya memberi fasilitas jalur undangan tersebut
kepada para siswa yang berprestasi. Karena sang anak selama di tingkat SMA
berprestasi, Sang anak memutuskan untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri melalui
jalur undangan tersebut. Berharap dengan jalur undangan ini sang anak mendapat
keringanan dalam masalah biaya kuliah karena memang dia berprestasi. Sang anak
memang diterima di salah satu perguruan tinggi yang dia pilih.
Namun kebahagiaan dan kebanggaannya berubah drastis menjadi
kekecewaan dan kesedihaan. Impian anak tadi untuk mendapat keringanan biaya
kuliah dengan masuk ke perguruan tinggi lewat jalur undangan, ternyata hanya
mimpi, Dengan berkedok uang fasilitas, uang gedung, dan uang ekstrakurikuler,
yang tidak tanggung mahalnya yang selama ini kita lihat setiap masuk perguruan
tinggi lewat jalur seleksi yang dimasa penulis disebut SPMB (seleksi penerimaan
mahasiswa baru) ternyata tidak hanya jalur seleksi saja berlaku,biaya-biaya
tersebut juga berlaku terhadap mahasiswa yang berprestasi yang diterima lewat
jalur undangan ke setiap sekolah-sekolah. Sang anak akhirnya menyerah juga, impiannya
pun untuk melanjutkan pendidikannya di tingkat perguruan tinggi hanya sebatas
mimpi karena mahalnya biaya pendidikan.
Ø Golongan Menengah
Seorang anak baru selesai Ujian Nasional tingkat SMP, dia adalah
seorang anak yang memiliki sebuah pemikiran yang sebenarnya pintar, rajin dan
mempunyai semangat yang tinggi,
sayangnya pemikirannya ini tidak sejalan dengan ekonomi orang tuanya.
Sebut saja dia si L, setelah menerima ijasah SMP nya, si L mempunyai impian
untuk melanjutkan pendidikanya ke tingkat Sekolah Menengah Atas yang ia
paporitkan, sekolah tersebut sekolah formal, terkenal, terletak ditengah kota,
dan mempunyai prestasi . Dengan penghasilan orang tuanya yang berkecukupan,
bapaknya hanya seorang pegawai di Pabrik Teh Perkebunan dan ibunya hanya
seorang ibu rumah tangga. Si anak tidak bisa untuk melanjutkan kesekolah
tersebut, karena sekolah yang dipaporitkannya itu cukup mahal dan jauh dari
rumah. Karena mahal dalam pembiayaan uang daftar, bangunan dan uang SPP, belum
lagi untuk ongkosnya sehari-hari. Membuat kedua orang tuanya menggelengkan
kepala. Melihat kondisi seperti ini, orang tua si anak tersebut akhirnya
memasukan anaknya kesekolah lain yang tidak begitu mahal dan jarak tempuhnya
tidak terlalu jauh dari rumahnya, tanpa melihat sekolah tersebut berprestasi
atau tidak dan tidak memikirkan perasaan si anak, menurutnya yang penting anaknya
bisa melanjutkan kesekolah menengah atas.
Ø Golongan Atas/Kaya
Seorang anak bernama F yang telah selesai dari tingkat Sekolah
Dasar. Ia seorang anak yang pintar, berbakat, dan kreatif serta mempunyai
keinginan untuk melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Menengah Atas yang formal,
mahal, berprestasi, dan Bertaraf Internasional dikota Jakarta. Ayahnya bekerja
sebagai seorang pengusaha Matrial dikota Bandung dan Ibunya adalah seorang
Pembisnis pakaian kedaerah luar kota. Karena keadaan orang tuanya berada/kaya,
mereka tidak begitu mempermasalahkan soal biaya pendidikan anaknya. Sehingga
keinginan si anak tersebut bisa tercapai. Menurutnya dengan memasukan anaknya
kesekolah tersebut, semuanya dapat terselesaikan, si anak akan merasa senang,
dan dapat membuat anaknya makin berprestasi. Akan tetapi karena si anak jauh
dari orang tua dan kedua orang tuanya sibuk, serta jarang komunikasi, si
anakpun jadi tidak terperhatikan.
Karena si anak merasa kurang diperhatikan dan kurangnya kasih
sayang dari orang tuannya, si anakpun menjadi malas untuk pergi sekolah dan belajar. Sehingga prestasi
disekolahnya menurun, dan si anak menjadi bandel, sering bolos, dan sering main
keluar untuk mencari perhatian dari orang lain.
Selain anak dari keluarga kaya tadi, ada juga anak dari keluarga
kaya lain bernama D. Anak ini baru selesai dari bangku Sekolah Menengah Pertama
dan baru mau melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas. Ia seorang anak dari ayah
yang bekerja disuatu bank dan bekerja sebagai dosen disuatu perguruan tinggi,
dan ibunya juga bekerja sebagai Guru PNS. Karena kedua orang tuanya sangat
mengerti akan pendidikan, si anakpun dimasukan kesekolah yang menurutnya bagus,
mempunyai fasilitas komplit, berkualitas, berbasis internasional, mahal dan
mempunyai prestasi yang gemilang. Meski biaya sekolah tersebut cukup mahal,
mereka tidak mempersulitkan soal pembiayaan, selama sekolah tersebut memberikan
pendidikan yang sesuai, membrikan pendidikan yang bermutu kepada anak didiknya,
dan dapat meningkatkan prestasi anaknya dalam belajar. Si anakpun begitu
menyukai sekolah yang telah dipilih oleh orang tuanya, dan menambah semangat si
anak dalam belajar disekolahnya yang baru. Sehingga tidak ada permasalahan yang
begitu dikhawatirkan oleh orang tua dan si anak tersebut.
Keluarga sebagai rumah pertama kita sebgai pelajar/siswa seharusnya
orang tua lebih memperhatikan anaknya member support kepada mereka sebab
ekonomi keluarga yang tidak mampu nasehatilah dia, motivasi dirinya. Pendidikan
anak, mengatakan bahwa anak hendaknya mulai ‘dididik’ sejak lahir. Menjadi
orang tua yang bertanggungjawab dan dapat memberikan bekal pendidikan bagi
anaknya memang tidak mudah. Hingga kini, tidak ada sekolah untuk menjadi bapak
atau ibu, sehingga kesiapan seorang ayah dan ibu sangatlah diperhatikan sejak
dari awal memutuskan untuk membina rumah tangga.
Keluargasebagairumahpertamakitasebgaipelajar/siswaseharusnya
orang tualebihmemperhatikananaknyamemberi support
kepadamerekasebabekonomikeluarga yang tidakmampunasehatilahdia, bagi yang
mampulebihmeningkatkanprestasibelajarnyalagidan orang
tuanyaselalutetapmemotivasinya, danbagi yang ekonomisedangbisilewatmotivasi
intrinsic danmotivasiekstrinsikseretamotivasidirinya. Pendidikananak,
mengatakanbahwaanakhendaknyamulai ‘dididik’ sejaklahir.Menjadi orang tua yang
bertanggungjawabdandapatmemberikanbekalpendidikanbagianaknyamemangtidakmudah.Hinggakini,
tidakadasekolahuntukmenjadibapakatauibu, sehinggakesiapanseorang ayah
danibusangatlahdiperhatikansejakdariawalmemutuskanuntukmembinarumahtangga.Mengenaisebuahpermasalahpendidikanygberhubungandengan
status ekonomi, menurutteoribimbinganbelajar :
Pendidikanseharusnyamasihdapatterusberjalantanpaharusdibenturkanolehpermasalahmengenaimasalahkarna
di Indonesia khususnyatelahbanyakdipergunakanjasa-jasabeasiswabagipara murid2
ygberprestasitapiidakmampudan murid2 ygmemang benar2
inginbersekolahtapisamasekalitidakmampu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar